Selasa, 04 Juni 2013

terkadang pilu

menjadi pribadi yang selalu terisolasi kepenatan.
mencari apakah tak ada kecerian yang bisa ku dapatkan?
hari demi hari terlewat perlahan.
merubah,mengusik dan menghancurkan !

gelombang takkan berubah haluan,
mencari arti yang tak terartikan.
teriak ! berontak ! kesakitan !
kini hari tak lagi bersahabat dengan keyakinan.
orang cenderung mengejar keinginan,
uang di jadikan mainan.

langit mendung bergelayung di hamparan kebun awan.
mentari di buat menangis hingga air nya terteteskan.
awan,bintang jadi lah sekepal angan yang mulai tertekan.

ya terkadang ini pilu,
ini realita dan ini maha pilu.
aku lupa caranya menari dalam sendu.
ahir kata semua menjaid ambigu

Rabu, 16 Mei 2012

ada apa dengan malam ini,

sepi dan sunyi..ya itu ciri khas dari rumah ini.. penghuni 5 org tapi jarang terjadi interaksi. malam ini ntar ada mood apa shingga aku yg sedang di depan sebuah laptop tiba" memasukan lagu sepeti sigur ros, kong of convenience, mocca, kitaro, kenny g.. wiiih, luat biasa atmosfirnya. begitu damai wols dan its so SLOW..
lapu kamar sudah di matikan dan hanya ada cahaya dari laptop, ada sedikit percikan" cahaya dari equalizer speeker. dan menghasilkan siluet dari diriku yang sedang duduk dan meroko.

trimakasih malam,

Minggu, 06 Mei 2012

awal dari reinkarnasi.. (review 2010-2012)

hampir 1 tahun hidup dalam kesendirian,mencoba melawan keterbatasan dan mencoba untuk terpandang. kadang sering putus asa aku ini, ketika dunia sudah terlalu familiar dengan diskriminasi, ambil saja 1 contoh "wanita" kadang semua begitu fiktif ketika seorang laki" memiliki harta berlimpah dan bahkan tampan maka mreka akan mendapatkan pasangan yang cantik. lantas bagai mana nasib aku yang sederhana dan tidak tampan
ini??



ya jawabannya adalah nikmatilah kesederhanaan dengan penuh semangat untuk melewati keterbatasan. hingga suatu hari aku pernah mati. di awali dengan penghianatan seseorang yang aku anggap takdirku dia yang sejatinya adalah mantan terlamaku, sebelumnya kita sepakat bahwa kita akan jalani hari" bersama sebelum keberangkatanmu ke jepang sana. tapi apa yang aku lihat adalah km dan seorang pria asing malah merajut kisah baru ala sinetron LDR.
#linda iryani

trimakasih buat seorang mantan yang mungkin terlalu di sayangkan jika hubungan aku dengannya dulu hancur karna banyak laki" kampungan yang terus menggangu dan aku menjadi malas, tapi thanks meg kita putus secara baik" dan masih berteman hingga skarang
#mega elsa sugesti












ada juga aku pernah mengalami kegagalan dimana bersama seseorang yang tidak setulusnya sayang pada ku karna ingatannya tentang mantan,sihingga hubungan hanya berlangsung singkat.. perkataan dan tindakannya tidak singkron sehingga sudahi saja
#raisa prestiane














kegagalan ini adalah awal dari kematian,
kemudian aku pernah memiliki seorang teman wanita yg aku anggap dia seperti cermin, dia alami semua yang aku alami.. dan berahir dengan kehilangan.
MATI LAH SEMUA ASA KU,
#ifa anisa arifin






hingga ahirnya di tengah" kejenuhan yang mendera, seseorang yang telah sejak lama aku kenal tiba" mengajakku bermain. dia seorang wanita sederhana pada awal aku mengenalnya sehingga sedikit sulit ketika mencoba mengenalnya kembali di saat ini, okey pada ahirnya kita fix untuk bertemu dan bermain dimana saat itu kita bertukar cerita dan mencoba kembali mengenal. waw memang berbeda dia dan sekarang.


hari demi hari kami lewati dengan komunikasi sms,bbm dan bahkan jejaring social. pertemuan ke 2 setelah itu adalah pertemuan yang sangat mengujiku. aku kaget dan merasa bimbang ketika di balik senyum" tipisnya itu seolah" dia bertanya " hey aku mau km nembak aku !".. aku sadar namun mencoba untuk pura" tidak tau hanya karna ingin dia mengatakannya langsung.
jujur di awal aku sedikit ragu tentang keputusanku untuk bersamanya karna dia adalah mantan dari teman dekatku. ini menjadi semacam perjudian dimana aku harus memilih teman atau perasaan. dengan di awali kata bismilah di dalam hati ahirnya aku memilih perasaan.
hubungan kita jalani penuh lika liku sejak awal yang kadang membuat aku sedikit pesimis dengan keedaan, apalagi di iringi kepercayaan yang sedikit demi sekidit luntur. kadang terpikir dan sedikit paranoid ketika kepingan" puzzle masa lalunya aku temukan di perjalanan ini. dia yang memiliki sedikit pemikiran yang menurutku itu kesalahan besar.

tapi salutku,dia selalu mencoba untuk menyakinkan aku tentang perasaannya. aku hargai usahanya,
dan hanya waktu yang bisa menjawab apakah dia benar" bisa berubah.
terimakasih untuk senyum, keceriaan, hari" baru yang km beri buat aku. makasih "sayang", ya kata sayang yang terucap bukan karna kita terikat status.. tapi karna aku memang sayanng km.
terimkasih telah sedikit demi sedikit bangkitkan kepercayaan diriku tentang apa itu cinta dan perasaan.
aku tunggu saat km dan aku berkata KAMU MEMANG YANG TERBAIK,DAN AKAN MENJADI YANG TERAHIR.
tapi perjalanan kita masih terlalu jauh untuk itu, tapi apa salahnya unutk optimis.
km terima kekuranganku,aku terima kekuranganmu.. itu lah kesempurnaan, kesempurnaan yang tercipta seolah" kita ini adalah warna yang berbeda kemudian ber gradasi menjadi pelangi.
terimakasih #UTAMI PUTRIANOV H.

Selasa, 27 Maret 2012

lemah dalam terjemah

suatu pagi terbangun dan bertanya pada mentari.
hey! kemana suara-suara ayam yang biasanya ada di pagi.
apakah ayam telah punah oleh kerakusan manusia ?
bernjak dan terduduk di ruang tv dan berteriak.
hey! kemana keadilan dan kemerdekaan kami.
apakah semua telah menjadi sejarah?
kami butuh keadilan, kami butuh kemerdekaan.
aku bosan menjadi militan karna aku bukan temperamen.

aku butuh makan agar hidup, aku butuh buang air untuk sirami muka penghianat bangsa.
kembalikan proklamator kami yg telah di bunuh atas nama orde.
apa yang salah dengan tokoh kami.
politik anjing penguasa tahta tai binatang,
musnah lah kalian di pagi ini bersama suara ayam yg telah hilang,

Minggu, 18 Maret 2012

Kasus Munir, Melawan Lupa


Hampir tujuh tahun berlalu, hingga kini belum juga dalang pembunuh pejuang HAM, Munir Said Thalib, memperoleh ganjaran hukuman penjara. Besok, tepat tujuh tahun Munir dibunuh saat dalam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan kuliah pasca sarjana. Upaya Munir memperjuangkan penegakan HAM di negeri yang dicintainya ini, harus dibayar dengan nyawanya. Tak pernah ada yang menyangka justru saat tengah berada di luar negeri, maut menjemput melalui racun arsenik.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh para pegiat hak asasi manusia untuk memastikan kasus ini dituntaskan. Mulai dari menagih janji Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono hingga mengajukan gugatan pembukaan informasi kepada Komisi Informasi Publik. Janji ditagih karena ketika pertama kali terpilih sebagai presiden, SBY menjanjikan untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir. Ketika itu SBY menyatakan, pengungkapan kasus Munir adalah the test of our history, apakah Indonesia negara yang menghormati HAM atau tidak. Faktanya tujuh tahun hampir berlalu, dalang pembunuhan itu masih melenggang bebas.
Kita juga tak melihat aparat hukum berniat sepenuh hati menuntaskan kasus ini. Sejak Mahkamah Agung menolak kasasi kasus ini dengan terdakwa bekas Deputi Badan Intelijen Negara (BIN), Muchdi Purwopranjono, lebih 2 tahun lalu, tak ada upaya hukum yang dilakukan Kejaksaan Agung. Tak heran sejumlah lembaga hak asasi manusia melemparkan kecaman keras pada lembaga ini. Apalagi sejak awal menuntut kasus ini, banyak kejanggalan yang dilakukan kejaksaan. Diantaranya lebih rendahnya tuntutan kepada Muchdi sebagai orang yang menyuruh dengan Polycarpus sebagai orang suruhan untuk melakukan pembunuhan. Janggal dan seperti ada semacam kesengajaan untuk membebaskan orang yang didakwa sebagai orang yang menyuruh atau dalang pembunuhan Munir itu.

Kalau Presiden dan jajarannya bersungguh hati menuntaskan kasus ini, Peninjauan Kembali (PK) harus segera dilakukan. Barang bukti yang sempat diakui ada dan sangat penting berupa rekaman suara percakapan antara Polycarpus dan Muchdi bisa diungkap di sana. Novum atau bukti baru itu rasanya cukup kuat untuk menjerat otak pembunuhan Munir.
Perjuangan menuntut keadilan atas pembunuhan Munir harus dituntaskan, meski presiden dan aparat hukum di bawahnya lupa dan ingkar dengan janji dan kewajibannya. Mengingat dan memastikan para perencana pembunuhan keji itu diadili adalah bagian dari perang melawan lupa. Bagian dari upaya menegakkan hak asasi manusia seperti diperjuangkan oleh Munir.

sumber : http://www.kbr68h.com/editorial/54-tajuk/11842-kasus-munir-melawan-lupa


Soekarno Bukan Pembelah dan Ajaran Nasionalismenya Masih Relevan!




                                                                               
Sebuan tanggapan terhadap tulisan Max Lane, "Soekarno: Pemersatu Atau Pembelah?"

Max Lane, seorang indonesianis dariUniversity of Sydney, Australia, menulis sangat baik tentang Bung Karno dan gagasan-gagasan politiknya. Salah satu tulisannya yang terbaru diberi judul "Soekarno: Pemersatu Atau Pembelah."

Artikel itu membongkar satu keyakinan umum orang-orang Indonesia dan sebagian penulis dari luar: Soekarno sebagai tokoh pemersatu. Ternyata, setelah menyelami tulisan Bung Karno yang berjudul "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme", Max Lane menemukan bahwa Bung Karno juga adalah pembelah.

Selain itu, jika anda tuntas membaca artikel itu, maka pesan utama yang hendak disampaikannya hanya satu hal: nasionalisme sebagai ideologi perlawanan sudah tidak relevan. Alasannya, nasionalisme berseru buat semua elemen bangsa untuk satu kepentingan yang sama, sedangkan fakta menunjukkan bahwa jarang sekali elemen-elemen sebuah bangsa mempunyai kepentingan yang sama: Yang dieksploitasi berkepentingan menghentikan eksploitasinya; yang melakukan eksploitasi berkepentingan meneruskan
eksploitasinya.

Saya tidak setuju dengan kesimpulan itu. Lagi pula, tanpa sebuah elaborasi yang memadai, Max Lane tiba-tiba mengajak kita untuk sampai pada kesimpulan yang masih memerlukan perdebatan panjang.

`Membelah Demi Persatuan?'

Salah satu rujukan Max Lane dalam membangun argumentasinya adalah tulisan Bung Karno yang berjudul "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme". Menurutnya, orang yang menganggap tulisan itu mengusung persatuan adalah orang yang berfikiran dangkal dan menyesatkan.

Sebaliknya, bagi Max Lane, tulisan "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme" sejatinya adalah tulisan pembelahan, bukan penyatuan. Max menyebut Bung Karno Sukarno`membelah demi sebuah persatuan'. Sebuah kalimat yang kontradiktif.

Argumentasi pokok Max Lane, kalau boleh saya sederhanakan, adalah bahwa tulisan Bung Karno itu menuntut setiap golongan (nasionalis, islamis, dan Marxist) untuk memilih: bersatu atau tidak. Hanya saja, lanjut Max, landasan untuk bersatu itu bukan hanya Indonesia Merdeka, tetapi analisa terhadap dan sikap anti-kapitalis.

Artinya: Soekarno mengajak setiap golongan nasionalis, islamis, dan Marxist untuk bersatu atas dasar Indonesia merdeka dan sekaligus anti-kapitalis.

Di sinilah letak masalahnya: Max Lane terkesan memaksakan bahwa basis persatuan yang dikehendaki Bung Karno adalah persatuan untuk Indonesia merdeka dan sekaligus anti-kapitalisme (asing dan bangsa sendiri).

Ini gampang dijelaskan secara teoritis, tetapi sulit diterapkan dalam aplikasi strategi politiknya. Soekarno berseru untuk persatuan demi pelipatgandaan kekuatan melawan kolonialisme, sedangkan kecenderungan kesimpulan Max adalah politik mengisolasi perjuangan nasional menjadi segelintir "anti-kapitalis".

Pertanyaannya: Apa mungkin mencapai Indonesia merdeka dengan mengandalkan persatuan segelintir orang, dalam hal ini kalangan anti-kapitalis ansich, untuk melawan musuh dari luar (kolonialis) dan sekaligus musuh dari dalam (feodalisme dan kapitalisme)?

Beberapa Ketidaksetujuan

Menurut saya, ada beberapa kekeliruan mendasar yang dilakukan Max Lane
dalam tulisannya.

Pertama, penggunaan kata "pembelah" kurang tepat, sebab istilah itu hampir dekat dengan kata "pecah-belah", sebuah politik yang dipergunakan kolonialisme untuk menancapkan kukunya selama ratusan tahun di Indonesia.

Kedua, Soekarno dalam tulisan itu memang menganjurkan pemilahan, menyuruh setiap golongan memilih, tetapi pilihannya adalah: bersatu atau terpecah-belah. Di sini, Soekarno mengajak ketiga kekuatan untuk bersatu mencapai Indonesia merdeka. Jelas sekali, sebagaimana juga dalam tulisannya lainnya, Soekarno selalu menekankan perjuangan nasional untuk mencapai Indonesia merdeka.

Ketiga, Max mengabaikan konteks situasi saat lahirnya tulisan itu.

Terkait konteks situasi itu, ada beberapa hal yang patut dicatat sebelum kelahiran kelahiran tulisan Bung Karno itu:

Pada jaman itu, di hampir seluruh Asia termasuk Indonesia, tiga kekuatan itu (nasionalis, islamis, dan marxis) tampil menonjol sebagai azas pergerakan melawan kolonialisme.

Bung Karno sendiri menulis:

"….tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tak guna berseteruan satu sama lain, membuktikan pula, bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerja bersama-sama menjadi satu gelombang yang maha-besar dan maha-kuat, satu ombak-taufan yang tak dapat ditahan terjangnya, itulah kewajiban yang kita semua harus memikulnya.."

Tiga kekuatan itu sama-sama dimulutnya anti-kolonialisme, tetapi, pada lapangan politik, ketiganya sulit sekali bersatu. Satu contoh paling maju adalah pembentukan konsentrasi radikal 1918 guna melawan Volksraad. Sekalipun berhasil menyatukan berbagai spectrum politik nasional, termasuk yang moderat sekalipun, tetapi persatuan ini tidak bertahan lama.

Kemudian, Bung Karno juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri keretakan dan saling serang di kalangan pergerakan pembebasan nasional itu sendiri. Dalam tahun 1921, di dalam Sarekat Islam (SI), organisasi politik terbesar saat itu, telah terjadi perpecahan yang tak terhindarkan. Para pemimpin sayap kanan (SI putih) telah berhasil memaksa keluar pengikut-pengikutnya yang kiri (SI-merah)—yang sangat
dipengaruhi oleh ISDV/PKI.

Pemuda Bung Karno juga menyaksikan bagaimana gurunya, Tjokroaminoto, diserang secara pribadi oleh Haji Misbach, tokoh haji merah yang berfikiran radikal dan anti-kolonial. Dalam kongres PKI itu, pemuda Bung Karno berdiri dan meminta Haji Misbach untuk meminta maaf.

Penekanan Pada Perjuangan Nasional

Pada bagian lainnya tulisannya, Max juga menulis begini: "dengan menyatakan bahwa Indonesia Merdeka adalah prioritas tidak ada pelunturan sedikit pun dengan tekanannya pada diteruskannya propaganda anti-kapitalis."

Secara sepintas lalu, tidak ada masalah dengan argumen itu. Tapi, ketika diterjunkan ke dalam strategi politik, baik saat itu maupun saat ini, akan tetap muncul masalah; bisakah kita mencapai Indonesia merdeka dan sekaligus merobohkan kapitalisme? Bisakah itu berjalan secara sekaligus?

Soekarno, dalam tulisan "Kapitalisme Bangsa Sendiri"—yang juga dikutip separuhnya saja oleh Max Lane—berkata:

"Di dalam karangan saya yang lampau saya katakan, bahwa kita harus anti segala kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri. Tetapi di situ saya janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita dalam perjuangan kita mengejar Indonesia-merdeka itu tidak pertama-tama mengutamakan perjuangan kelas, tetapi harus mengutamakan perjuangan nasional."

Jadi, dalam pemikiran Soekarno, sekalipun ia konsisten anti-kapitalis, tetapi tetap ada `penekanan' terhadap perjuangan nasional. Ini adalah persoalan strategi politik, yaitu bagaimana menggabungkan kekuatan nasional yang anti-penjajahan untuk selekas-lekasnya mencapai Indonesia merdeka.

Kenapa mendahulukan perjuangan nasional? Soekarno punya analisa menarik untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Dalam tulisan "Kapitalisme Bangsa Sendiri", Soekarno menceritakan mengapa perjuangan kelas cocok untuk eropa saat itu, tetapi tidak cocok untuk negara jajahan seperti Indonesia.

Kata Soekarno, dua golongan yang bertentangan di eropa, yaitu pemodal versus buruh, berasal dari dari satu bangsa, satu kulit, satu ras. Kaum buruh dan pemodal berasal dari satu natie. "Karena itulah maka disesuatu negeri yang merdeka antithese tadi tidak mengandung rasa atau keinsyafan kebangsaan, tidak mengandung rasa atau keinsyafan nasional, tetapi adalah bersifat zuivere klassenstrijd, –perjuangan klas yang melulu perjuangan klas," kata Soekarno.

Tetapi, di negara jajahan seperti Indonesia saat itu, menurut Bung Karno, yang "menang" dan yang "kalah", yang "diatas" dan yang "dibawah", yang menjalankan
kapitalisme dan yang dijalani kapitalisme, adalah berlainan darah, berlainan kulit, berlainan natie , berlainan kebangsaan. Antithese didalam negeri jajahan adalah "berbarengan" dengan antithese bangsa, –samenvallen atau coÑ—nsederen dengan antithese bangsa. Antithese didalam negeri jajahan adalah, oleh karenanya, terutama sekali bersifat antithese nasional."

Di sini, Soekarno menjelaskan perjuangan nasional sebagai prasyarat atau tahapan menuju perjuangan selanjutnya. Penuntasan perjuangan nasional itu mutlak diperlukan sebagai basis atau material untuk perjuangan selanjutnya.

Nasionalisme Tidak Relevan?

Di bagian akhir tulisannya Max Lane menulis begini: "nasionalisme berseru buat semua elemen bangsa untuk satu kepentingan yang sama, sedangkan fakta menunjukkan bahwa jarang sekali elemen-elemen sebuah bangsa mempunyai kepentingan yang sama: Yang dieksploitasi berkepentingan menghentikan eksploitasinya; yang melakukan eksploitasi
berkepentingan meneruskan eksploitasinya."

Dari situlah Max Lane mengambil kesimpulan bahwa nasionalisme tidak relevan.

Saya rasa, sebelum memvonis relavan dan tidaknya, ada baiknya melihat dua kecenderungan nasionalisme: nasionalisme negara-negara kapitalis maju dan nasionalisme negara-negara jajahan (semi-kolonial).

Ini penting, karena seperti kita ketahui, Soekarno pun membedakan antara nasionalisme borjuis di eropa dan nasionalisme yang dianut oleh pejuang anti-kolonial di dunia ketiga: Gandhi dan Sun Yat Sen.

Terkait dengan dua bentuk nasionalisme itu, ada baiknya kembali melihat fikiran Bung Karno. Katanya, nasionalisme di eropa itu nasionalisme borjuis, yaitu suatu `nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi'. Sedangkan nasionalisme Indonesia, yang disebutnya sosio-nasionalisme, adalah nasionalisme
masyarakat atau nasionalisme yang mencari keberesan dalam kepincangan masyarakat, sehingga tidak ada lagi kaum yang sengsara dan ditindas. (Baca selengkapnya di Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi, buku DBR I).

Dalam perkembangan terbaru, misalnya pertemuan G-20 tahun lalu, terlihat jelas bahwa nasionalisme telah menjadi langgam baru kapitalisme global. Negara-negara kapitalis maju berbicara "kepentingan nasional" untuk kepentingan ekonomisnya: perdagangan dan ekspansi pasar. Sedangkan negara dunia ketiga juga berbicara nasionalisme sebagai bentuk pertahanan terhadap serbuan tersebut (proteksionisme, dll).

Dalam era neoliberal sekarang ini, penghancuran negara nasional justru menjadi proyek kaum neoliberalis, sebagai prasyarat untuk menjalankan agenda mereka. Sebaliknya, sebagai bentuk melawan dominasi neoliberal, beberapa bentuk gerakan anti-neoliberal mempergunakan sentimen `penguatan peran negara nasional' khususnya dalam urusan kesejahteraan rakyat.

Jika ditanyakan, apakah nasionalisme masih relevan? Maka jawab saya: Sangat relavan.

Dimana relevansinya dengan situasi sekarang? Menurut saya, dalam perjuangan melawan imperialisme saat ini, tidak bisa tidak perjuangan kita mengambil karakter perjuangan nasional atau revolusi nasional. Karena, dalam negara terjajah seperti Indonesia, sangat sulit berbicara revolusi anti-kapitalis, sementara ekspresi penindasannya sebagian besar karena eksploitasi dari luar.

Terhadap pertanyaan ini, saya mengutip pidato Njoto sebagai berikut: "Fasensprong (faham melompat) tidak mau tahu akan revolusi nasional dan demokratis. Fasensprong mau langsung ke sosialisme, sekalipun syarat-syarat untuknya belum tersedia. Fasensprong mengobrak-abrik pengusaha-pengusaha nasional dan pengusaha-pengusaha kecil, tetapi membiarkan pengusaha-pengusaha imperialis seperti BPM-Shell, Stanvac,
Caltex dan Unilever. Mereka lebih hebat daripada "sosialisme dengan kemiskinan" – mereka mau "sosialisme dengan imperialisme"!
sumber : http://sejarawan.blogspot.com/2011/07/soekarno-bukan-pembelah-dan-ajaran.html