Jumat, 06 Januari 2012

JIWAKU DIAMBANG KEHANCURAN


aku bersimpuh dibawah gemercik suara tangis.
mencari sumber suara pada ruang sempit penuh lukaluka yg menyelimuti.
ku turun dari tangga dimana ku bermukim,
ada sesosok ratu mulia,yg tak ku sadari itu ibuku.
dia terus mengeluh akan kegagalan buah hatinya yg dulu dia elu elu kan.

aku pun perpikir sambil menadah ke langit.
ini slah ku atau bukan wahai sosok.
aku merasa kau akan rumtuh langit-langit jiwa hasratku.
ternyata ksalahan ini bukan salahku,

namun heranku, knapa seolah aku yg bersalah?
apa karna aku ni kotor wahai jiwa yg berselimut di bawah nama luthfi.
terpaku sungguh, tergetar hatiku.

suatu pagi saat aku belum sempat menyatukan jiwa jiwa ku.
datang sosok pria dewasa yg menghapiriku.
dan dia berkata, hey anak muda jangan lah kau menjadi sosok seperti org yg lahir sebelummu.
pertanyaan pun semakin bergelayut padaku yg polos dalam posisi menyamping.

kemudia aku bertanya pada pria dewasa itu,
wahai pria dewasa..aku belum waktunya untuk di beri tugas menggapai angkasa duka.
dia pun menjawab.. sabarlah anak muda dan semoga kau sukses.
pria dewasa itu memang benar.
maka tak salah jika aku memanggilnya ayah.

tapi apa yg terjadi jka langit menangis bersama sosok" yg ku sebut itu.
maka hanya satu jawabku, itu tanda" langit-langitku akan runtuh.
lalau aku bertanya pada sosok pendiam yg ku sebut itu kaca masa.
apa benar aku ini tidak hina? apa benar mereka di ciptakan hanya untuk bertahan demi buah hati.

tapi sosok pentdiam itu enggan berkata, namun.
dia hanya begetar..
sudah ku kira kau tiadak mau menjawabku lagi.
sungguh berdosa jiwa ini hingga aku hina di depanmu wahai kaca masa.

akhirnya kaca masa itu berkata..
bukan kau yang salah wahai pemuda penuh duka..
tapi ini adalah bagian skenario yg harus kamu ikuti,
aku tak mampu menjawab..dan hanya bisa tersenyum.

inikah takdir?

-UPI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar