Menguak luka,tawa dan satir.
Akankah datang hari dimana semua berfikir?
Untuk apa hidup dan untuk apa berkualifikasi dan tersingkir?
Kami terlahir pada ordo sama namun genus yang berbeda.
Menjadi jeda dalam siklus dimensi dan saling menunda.
Tanpa ambisi dan tanpa tanda.
Terluka sudah biasa yang luarbiasa pasti berluka.
Berlaku pada prilaku hewani dasamurka.
Setiap celah memiliki pertanda .
Setiap sempit memiliki ruang.
Berisi itu kosong dan kosong itu berisi.
Bergam bukan berarti harmoni.
Seragam bukan berarti puisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar